Pendidikan Karakter


Implementasi Program Pembangunan
Karakter Peserta didik Kelas XII SMA di Bandung
(Studi Deskriptif di SMA Santa Maria 1 dan 2 Yayasan Salib Suci Bandung)

Raimondus Angwarmase, Achmad Sanusi, Maman Suryaman
Universitas Islam Nusantara Bandung
rymd99@yahoo.com, duanser65@gmail.com, drmamansuryaman1961@gmail.com

Abstract

Keywords: Implementation, Character Building,  High School Students

This study aims to find out the Implementation of Character Building of Class XII High School Students in Bandung by considering aspects of system, educators and school environment based on the elements of efficiency, productivity, effectiveness, relevance and appreciation of the character formation program of learners. The type of this research is qualitative descriptive research. Discussion on the implementation of character development of learners there are four main points resulting from cultural habits (culture) schools, namely: (1) cultural insight quality education (quality) for learners in academic and non academic activities; (2) religious culture includes: morning prayer before and after lesson, liturgy (Mass together) once a month, spiritual assessment according to the religion of each student; (3) a culture of discipline, both for educators (teachers) and learners; and (4) a culture of behavior (tatakrama), respect for parents and caring for the young, promoting religious values, honesty, tolerance, discipline and responsibility in the form of routine activities (teacher picket tasks, student pickets, flag ceremonies, ), spontaneous activity (advise, admonish and assist incidental activities), exemplary, and conditioning (environmental hygiene, school cleanliness, class cleanliness, etc.). Obstacles in the implementation of character education is still limited to some teachers' knowledge of character education, heterogeneous learners make it difficult for schools to determine the values ​​of characters that must be developed. The conclusions and suggestions put forward by the authors include: (1) For principals, teachers at Santa Maria 1 and Santa Maria 2 High Schools of Bandung, in particular, generally high school in Bandung, must apply character education into syllabi, RPP, and methods, media and evaluation techniques used in teaching and learning activities. (2) For schools, instill character to learners while outside the classroom should be done more intensively, through reprimands / sanctions to learners who violate the rules and through the development of new programs to shape the character of learners, including ongoing supervision.


1.       PENDAHULUAN
Isu kelunturan pendidikan karakter, degradasi pembelajaran nilai-nilai kehidupan (moral), mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong, dan kasih sayang, terlindas dengan  sikap penyelewengan, penyim-pangan, tipu-tipu, saling merugi-kan, menjegal, dsb. Perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang canggih pun turut mempengaruhi perubahan perilaku anak-anak (peserta didik), berdampak pada moral yang rendah, cara pandang dan cara hidup serba praktis, serba cepat, memenuhi keinginan, kebebasan, demokriatis berujung pada  penyataan : “yang penting tujuan tercapai”. Contoh konkrit perubahan karakter yang nyata, anak-anak jaman dulu beda dengan anak-anak jaman sekarang. Anak jaman dulu menghormati orangtua, sedangkan anak jaman sekarang sudah berkurang rasa hormat terhadap orangtua. Waktu ulangan atau ujian, suka menyon-tek, dan masih banyak lagi perubahan sikap, perilaku yang dinampakkan.
Kualitas pendidikan sering menjadi perbincangan ditengah masyatakat. Sampai kapan pendidikan Indonesia berkualitas? Sudah berapa nilai rupiah digelontorkan untuk pendidikan kita? Apa yang salah dengan pendidikan kita? Kualitas pendidikan yang bagaimana harapan masyarakat di jaman millennial ini? Apakah cukup dengan bisa membaca, menulis dan menghitung (calistung)? Lebih ekstrim lagi jika muncul pertanyaan, sampai generasi keberapa, bangsa Indonesia dapat menemukan jati diri yang sejati dan pendidikan yang berkualitas?
Berkaca dari fenomena-fenomena saat ini, tidak lepas dari sistem pendidikan yang masih carut marut. Tidak bisa dipungkiri perilaku, karakter masyarakat masih tergolong “feodal”. Sikap dan perilaku menurut penulis, masih dipengaruhi karakter, sikap dan perilaku “penjajah” yang telah tertanam selama kurang lebih 360 tahun lalu, jika disandingkan dengan sikap dan perilaku bangsa yang lebih kurang hanya 20% bebas dari penjajahan, walapun ukuran psikologis, kehidupan bangsa diibaratkan dengan kehidupan manusia, diusia 73 tahun sejatinya telah menjadi dewasa dan panutan hidup.
Ironis, memang, tetapi inilah fakta pendidikan yang ada; maka tak jemu-jemu, Sanusi dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya enam sistem nilai: (teologis, fisiologis, etika, estetika, logis dan teleologis) dilandasi “believing skill dan operational skill”, sebagai acuan hidup bermasyarakat di abad 21 ini. Penekananya pada bileving skill dan operational skill, dimaknai penulis dalam nuansa religi “iman” dan “perbutan” harus seimbang. Jika sesorang punya “iman” tapi tidak dipraktekan/dioperasikan, tentu tidak berguna, begitupun sebaliknya.
Perubahan tidak semata dirasakan satuan pendidikan, namun secara universal. Apa yang tadinya teratur menjadi  rumit (complex) dan semrawut (chaos), akibat etos biro-kratisasi menawarkan keseragaman, formalisme dan keteraturan serta perubahan melalui kebijakan, bertemu dengan etos demokrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sering menjadi sumber masalah baru, bukan menjadi  instrumen perubahan  dan solusi masalah. Kerumitan dan kesemrawutan yang dirasakan, lanjut Sanusi, diperlukan keterampilan untuk bisa melakukan surfing on chaos, yaitu believing skills dan oerational skills. Dengan demikian, menjadi lebih utuh apa yang dilakukan manusia, karena ada unsur keimanan, keyakinan atau kepercayaan sekaligus ada keterampilan melakukan dan kepemimpinan dalam keterampilan manajerial.
Faktor utama membangun karakter suatu bangsa menurut Sanusi, adalah pendidikan, yang merupakan :
 usaha sadar dan terencana, mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan diperlukan individu, masyarakat, bangsa dan negara, dengan membiasakan sifat-sifat: Honesty (jujur), Citizenship (berkewarganegaraan), Courage (berani), Fairness (keadilan), Respect (menghargai), Responsibility (tanggungjawab), Perseverance (tekun), Caring (peduli), dan Self-Discipline (disiplin diri). (Sanusi A, 2016 : 206).

Kajian tentang karakter mengisyaratkan adanya nilai-nilai karakter yang perlu diaplikasikan dalam kehidupan setiap individu maupun kelompok, diantaranya :  nilai perilaku manusia berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (religius), berhubungan dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan lingkungan, yang melekat pada diri manusia, dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari menampilkan pola perilaku berbeda secara fisik dan psikis, harapan-tujuan dan kepentingan, serta situasi dan kondisi lingkungan, merujuk pada unsur-unsur, tujuan jenis tingkat keperluan dan  kebutuhan hidup, intensitas sikap dan tata cara penampilan, serta reaksi setiap individu maupun kelompok.
Nilai-nilai karakter dalam penerapannya, tidak terlepas dari pola dan variasi, yang dijadikan setiap orang/kelompok dalam bertindak tergantung pada tingkat kekuatan dan kesungguhannya, sehingga, menurut Sanusi, perikehidupan manusia terpolarisasi menjadi 5 (lima) pola utama, yaitu  “(1) Manners  : tatacara tindak-tanduk atau gaya, (2) Behavior : gaya perilaku atau lagak, (3) Character : pola karakter, (4) Personality : pola kepribadian, dan (5) Individuality : pola keakuan”.(Sanusi, 2014 : 79), sebagaimana visualisasi pada gambar 1 berikut :

Gambar  1.  Lapisan Perilaku   Sumber :  Sanusi A (2014 : 79)

1.     Individuality - Jati diri
2.     Personality - Kepribadian
3.     Character - Karakter
4.     Behaviors - Lagak
5.     Manners - Gaya
 











Gambar tersebut, menjelaskan bahwa tatacara/tindak-tanduk, perilaku, karakter, kepribadian dan keakuan seseorang, sekelompok, masyarakat, satu oragnisasi dan satu bangsa sekalipun, pada hakekatnya bersumber dari sistem nilai yang dihayati, dibudayakan dan diperjuangkan, berlandaskan 3 (tiga) nilai mendasar dalam kehidupan masyarakat, yaitu : (1) nilai agama : melekat pada hubungan pribadi  manusia dengan Tuhan (hubung-an vertikal), (2) nilai sosial : mengedepankan hubungan pribadi seseorang dengan orang lain (hubungan horizontal), (3) nilai hukum : terletak pada hubungan pribadi setiap individu terhadap hukum yang berlaku. Diharapkan akan berdampak pada sikap, dan perilaku serta tindakan bernilai dan menjadi karakter, bukan lagi sekedar berpura-pura, ikut-ikutan untuk bisa dilihat orang lain.
Semuanya berpulang pada pribadi masing-masing, menginventarisir segala tindakan, perbuatan yang dilakukan setiap hari. Mungkin saja semua tindakan bernilai, ataukah hanya sebatas “ada maunya”, sebagai strategi atau siasat yang dilakukan untuk memper-oleh perhatian dari pihak lain. Degan demikian, menjdi hal wajib bagi manusia yang beriman, baik itu Islam  maupun Katolik dengan uangkapan religi : “Abluminanas dan ablumin Allah”, dan “Cintailah Allahmu dengan segenap akalbudimu dan cintailah sesama seperti mencintai dirimu sendiri”.
Implementasi pembangunan karakter tidak lepas dari watak, sifat, moral dan akhlak setiap individu maupun kelompok bersumber padat tiga aspek dasar proses pembangunan karakter yaitu sistem, pendidik, dan lingkungan, berlandaskan empat pilar karakter bangsa : Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinaka Tunggal Ika, akan menjadi efektif dan berhasil, jika dibarengi dengan  keterampilan yang diasah dalam praksis pendidikan merujuk pada keterampilan, kognitif, afektif, psikomor (Taksonomi Bloom), disempurnakan Sanusi dengan menambah keterampilan believing skill dan operational/managerial skill, menjadi lebih utuh apa yang dilakukan manusia, jika dilandasi enam system nilai : Ketuhanan (teologis), fisik, etika, estatika, logika dan kegunaan (teleologis).
Kemampuan kognitif, afektif, psikomotor, keyakinan (believing) dan pelaksanaan (operasional), menurut Sanusi, lebih dimaknai sebagai upaya  untuk :
 (a) membuka minat, potensi diri, dan rasa ingin tahu, (b) melandasi kemampuan nalar kritis, kretif, dan inovatif, (c) membentuk kepribadian dan karakter (termasuk akhlak mulia dan perilaku didalamnya), (d) mengotimalkan pertumbuhan psikomotorik, kelincahan, kecekatan, trengginas (kebugaran tubuh, keterampilan fisik), (e) menyadarkan dan memahami identitas dan posisi diri peserta didik dalam lingkungan sosio-kulturalnya. Sanusi, 2016 : 206).

Proses belajar dan berpikir setiap individu, atau kelompok memaknai sungguh-sungguh masing-masing nilai, tingkat keterampilan dengan mendalami bagimana permasa-lahan yang terjadi dalam upaya menata kehidupan sosial yang kian semakin rumit dan semwarut, tidak mudah, jika tidak ada kesungguhan untuk berubah dan memperbaikinya. Dalam konteks ini, menurut penulis, nilai yang paling utama adalah nilai “teologis”, dan “teleologis”, identik dengan “iman” dan “perbuatan”, dimana setiap individu, kelompok maupun masyarakat meyakini sesuatu yang benar, akan bermanafaat jika dilaksanakan/ diwujudkan, sehingga pendidikan disini sungguh-sungguh bernilai.
Kajian tingkat keterampilan dan sistem nilai, dalam pendidikan, semisal, dalam mengkaji nilai “Keesaan Allah”: Tahuid, menurut konsep aqidah Islam tentang keesaan Allah, yakni  :
 Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:  أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54). Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman: ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ ”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman: 30). Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thiltahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid  I/7-10).

diajarkan untuk setiap jenjang dan jalur pendidikan dengan tingkat pembelajaran yang berbeda. Jika dikaitkan dengan enam, sistem nilai, misalnya untuk tingkatan tahu, apa saja yang diketahui tentng nilai teologik, nilai fisik-fisioligik, nilai etik/ hukum, nilai estetik, nilai logik/rasional, dan nilai teleologik/manfaat atau guna, yang pada akhirnya akan ada kemampuan mengeloa dan memimpin untuk menjalankannya. Persoalannya, apakah hanya sebatas tahu saja, atau mau lebih tahu atau mau tahu secara mendalam dan diyakini serta dijalankannya?
Berbagai masalah yang melatarbelakangi pembangunan karakter dengan prinsip dan sudut pandangnya masing-masing sebagaimana telah diuraikan, meyakinkan penulis untuk meneliti tentang karakter peserta didik satuan pendidikan menengah atas (SMA) di kota Bandung berkaitan dengan masalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembinaan siswa melalui manajemen kelas, dengan judul : “Implementasi Program Pembangunan Karakter Peserta didik Kelas XII SMA di Bandung”.  (Studi Deskriptif di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Yayasan Salib Suci Bandung), sebagaimana visualisasi dalam gambar 3 berikut :

Gambar 3 Pembatasan Masalah

INSTRUMENTAL INPUT
   Nilai-Nilai Hidup
   Program
   Implementasi


RAW INPUT
Siswa :
   Kapasitas (IQ)
   Bakat Khusus
   Motovasi
   Minat
   Kematangan/Kesiapan
   Sikap/Kebiasaan Dll.

OUTPUT
  Sikap
  Perilaku
  Penge-
    tahuan




PROSES PEMBINAAN KARAKTER SISWA

   Manajemen Kelas
   Plan
   Do
   See

-      


ENVIRONMENTAL INPUT
   Keluarga
   Lingkungan/Masyarakat
   Stakeholder

OUTCOME
  Sumbangan terhadap Lingkungan




IMPACT
   Tatanan Hidup Masyarakat



 







          









Program Pembangunan Karakter (character building Program) telah dicanangkan pemerintah dengan berbagai kebijakan, program, peraturan dan strategi diantaranya Gerakan Nasional Pembangunan Karakter, Program Nawacita, Program Penguatan Pendidikan Karakter, namun belum maksimal. Untuk  hal itu, penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang : (a) Raw input  peserta didik melalui Manajemen Kelas, mengefektifkan dan menyukseskan pendidikan karakter di sekolah, (b) Proses pembelajaran peserta didik melalui Manajemen Kelas untuk mendorong peserta didik memahami : (1)  masukan dasar (peserta didik, data, fakta, informasi, permasalahan, tugas, cita-cita, dan komitmen); (2) masukan instrumental berupa (SDM, infrastruktur, dana, sarana, prasarana, cara kerja, dan media); (3) masukan lingkungan trigatra (geografik, demografik, dan kultural); serta dan (4) lingkungan pancagatra (politik, ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanan, serta agama), hakikat, tujuan dan manfaaf membangun karakter, (c) Model (relevansi) pembelajaran berkarakter yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata peserta didik setiap hari melalui Manajemen Kelas.

2.       METODE PENELITIAN
Metode Penelitian yang dugnakan adalah metode deskriptif kualitatif, untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia dengan pendekatan kualitatif, dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Hal ini menurut, Bogdan dan Taylor, berarti bahwa, data atau informasi yang terkumpul dari hasil penelitian, diolah dan dianalsis dengan uraian deskriptif. (Bogdan dan Taylor, 1975 dalam Moleong, 2007: 4-6 dan Bogdan dan Taylor, 1975:5 dalam Moleong, 2011:4)
Pendekatan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini, adalah kualitatif interaktif, merupakan studi yang mendalam dan menggambarkan keadaan atau suatu fenomena yang terjadi, gejala-gejala, informasi-informasi atau keterangan-keterangan dari hasil pengamat-an selama proses penelitian tentang Implementasi Program Pembangunan Karakter peserta didik SMA Kelas XII di Kota Bandung, menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari sumber data di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 di Bandung; sejalan dengan pendapat Sukmadinata, yang menyatakan bahwa : “Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok”.
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini seperti catatan lapangan, percakap-an, foto, rekaman wawancara, dan berbagai dokumen atau arsip yang terdapat di lapangan, akan disilang-silangkan menggunakan teknik triangulasi (gabungan antara teknik studi pustaka, catatan lapangan dan analisis dokumen, teknik wawancara dan teknik observasi). Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh, dapat dipercaya atau valid dan sesuai dengan kebutuhan. (Moleong, 2011:157 ; Sugiyono, 2012:207).
Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: (1) Peneliti menetapkan tempat penelitian, setelah melakukan konsultasi dengan pembimbing tentang masalah yang akan diteliti dan metode yang digunakan, sesuai dengan masalah yang akan diteliti, (2) Mengidentifikasi subjek penelitian yang terdiri dari Kepala sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru dan Peserta didik di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Bandung, (3) melakukan observasi, pendataan, pencatatan, dan hubungan dengan responden, (4) Pendataan dan pencatatan dilakukan dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi sesuai dengan masalah yang diteliti, (5) Menganailisis data yang telah ditetapkan.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi serta dokumentasi; sebab bagi peneliti, kualitatif fenomena, dapat di mengerti maksudnya secara baik, jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara dan observasi, dimana fenomena tersebut terjadi. Untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi dan menjadikan hasil penelitan lebih valid dan dan kredibel, peneliti  menggunakan  teknik  triangulasi, yaitu tekhnik pengumpulan data bersifat pengganbungan tekhnik observasi, wawancara, dokumentasi,  dan sumber data yang telah ada.
Analisis dalam penelitian ini, cenderung dilakukan secara induktif serta secara makna, merupakan hal yang esensial, menggunakan penelitian deskriptif dengan analisis evaluasi (berkenaan dengan kesesuaian tujuan dan kenyataan yang dicapai), analisis konteks (stategi penanaman nilai), analisis input (obyek pelaksanaan internalisasi karakter), analisa proses (bagimana strategi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar) dan analisa produk (implikasi hasil yang dicapai peserta didik), dan untuk mempelajari secara intensif latar belakang masalah, keadaan dan posisi suatu peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, juga interaksi lingkungan unit sosial tertentu bersifat apa adanya  (given).  Subjek penelitian dapat berupa individu, kelompok, institusi atau masyarakat.
Data dalam penelitian ini, akan dianalisis secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data mengikuti flow model yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. (Miles dan Huberman, 1984 : 21; Miles dan Huber-man dalam Sugiyono, 2011 : 337).  
Langkah-langkah analisis data dapat digambarkan dalam bagan 1. sebagai berikut:

Karakter Peserta didik

Bagan 1  Komponen dalam analisis data (flow model)
Sumber : Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011: 337)


Reduksi data :
 Kurikulum, Visi Misi, Tujuan , Strategi, dan  Program  Sekolah

Selama             

Analisis :
  Plan
  Do,
  Evaluation 


Periode pengumpulan data

Antisipasi              

Selama             

Selama             

Setelah              

Display data : Penilaian Karakter

Kesimpulan/verifikasi : Karater


Setelah              

Setelah              

3.       HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakter merupakan watak atau pun ciri khas yang melekat pada diri seseorang, tercermin dalam perbuatan/tingkah laku, yang menampakkan nilai-nilai tertentu. Karakter dapat terbentuk oleh pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan seseorang melalui berbagai kegiatan dalam suatu lingkungan tertentu yang saling berkesinambungan satu sama lain.
SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Bandung merupakan sekolah dengan pengembangan kegiatan yang multi dimensi. Berbagai faktor dalam kegiatan pembelajaran formal, non-formal maupun informal sangat berpengaruh guna mengembangkan dan membentuk kepribadian peserta didik yang utuh baik secara intelektualitas, humanitas, religiositas maupun keterampilannya.
Hasil pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi sebagaimana telah dikemuka-kan sebelumnya, peneliti menemukan beberapa hal terkait perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan hambatan dalam implementasi program pembangunan karakter pada SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Mari 2 Bandung, diantaranya:
a. Perencanaan Pembanguan/Pendidikan Karakter.
SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa  Maria 2 Bandung, telah memiliki visi, misi dan tujuan sekolah yang sangat jelas, sebagai landasan sekolah menyusun program-progam pembangunan pendidikan karakter. Implementasi Program Pembangunan Karakter Peserta didik, diwujudkan  sesuai dengan visi dan misinya, sebagai penjabaran visi Yayasan Salib Suci Bandung yaitu : Pembentukan watak dan mental dibarengi dengan pencetakan pemimpin-pemimpin” sebagaimana pengembangan kegiatan yang ada, seperti kegiatan Wawasan Kebangsaan, Rekoleksi, Retret, Bina Iman Anak Remaja (BIAR), dan lain sebagainya, berpatokan pada nilai-nilai karakter bangsa dan membingkai beberapa nilai pokok untuk dijadikan karakter intitusi sebagaimana diuraikan dalam 18 (delapan belas) nilai pendidikan karakter, yaitu religus, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kretif, mandiri, demokrtis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingmungan, peduli sosial dan tanggungjawab.
Perencanaan pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, sehingga dalam RPP, pendidik mengemukakan nilai-nilai karakter yang hendak dicapai selama proses pembel-ajaran diantaranya : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab, dan merumuskan langkah-langkah yang sesuai agar tercipta suasana belajar yang mendorong berkembangnya karakter siswa sebagaimana yang diharapkan.
b.  Pelaksanaan Pembanguan/Pendidikan Karakter.
Pengembangan pembelajaran yang dilaksanakan, kepala sekolah, pendidik dan tenaga pendidik mengawali kegiatan belajar mengajar dengan berdoa bersama di ruang guru, sementara peserta didik seluruh kelas berdoa secara bersamaan dengan masuk kelas pada pukul 06.55 WIB, sehingga tepat pukul 07.00 WIB pendidik telah berada dalam kelas memulai pelajaran. Berbagai kegiatan di luar pembelajaran, pengembangan karakter religius dibangun pula melalui pengembangan kegiatan pendampingan Bini Iman Anak Remaja (BIAR) yang menjadi program wajib bagi peserta didik, adanya pengembangan kegiatan retret sebagai penyembuhan luka-luka batin dan peneguhan identitas diri yang dilaksanakan pada awal masuk sekolah. Ada pula kegiatan rekoleksi yang dilaksanakan setelah mid semester (sekarang Penilaian Tengah Semester), setelah tes akhir sekolah guna melakukan kegiatan refleksi baik dalam membangun sikap dasar hidup bersama, rekoleksi yang berkaitan dengan kesehatan mental, narkotika, seksualitas dan masih banyak lagi.
Pengembangan nilai nasionalisme, tidak hanya dipupuk dengan adanya kegiatan upacara bendera pada hari senin dan hari-hari besar yang diperingati saja namun dipupuk juga melalui kegiatan Wawasan Kebangsaan (WK). Penekannya pada semboyan Mgr. Sugiyopranata yaitu : 100% katolik 100 % nasionalis, sehingga peserta didik diajarkan menjadi anak-anak yang mempunyai kepedulian terhadap bangsanya serta memiliki sikap dan rasa nasionalis, juga membangun minat dan semangat peserta didik agar mampu menjadi warga negara yang baik, kritis, memiliki sikap kesederhanaan, kepedulian serta mampu menempatkan diri di masyarakat. Nilai-nilai keutamaan yang sesungguhnya ingin diwujudkan melalui kegiatan Wawasan Kebangsaan ialah menggugah peserta didik dalam suatu kesederhanaan, menunjukan kepedulian sosial di masyarakat bawah (masyarakat kecil) serta pengenalan profesi guna menumbuhkan minat peserta didik di masa depan yang dirancang dalam berbagai tingkatan.
Pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi pada program dan kurikulum yang telah disusun oleh kepala sekolah bersama dewan guru  pada rapat awal tahun pelajaran, sekolah mengembangkan kultur atau budaya sekolah yang kondusif, sehingga siswa dapat melatih, membiasakan bahkan membudayakan nilai-nilai karakter sebagaimana telah ditetapkan, seperti kebiasaan memberikan salam, berpakaian rapih, memiliki potongan atau model rambut yang sama, santun dalam berbicara, disiplin, berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengembangan diri (Bimbingan dan Konseling dan ekstrakurikuler), teladan positif satu dengan yang lain, dan konsistensi dalam penanganan masalah siswa.

c.  Penilaian Pendidikan Karakter
Penilaian adalah kegiatan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari program-program yang telah dilaksanakan. Apakah telah terlaksana sesuai dengan rencana atau tidak? Jika tidak, apakah faktor-faktor penghambatnya serta usaha apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya?
Dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang dilakukan, terungkap bentuk penilaian pendidikan karakter serta faktor pendorong dan penghambatnya sebagai berikut: (1) Penilaian pendidikan karakter secara formal berlangsung pada saat rapat rutin bulanan, triwulan, semesteran, dan tahunan. (2) Penilaian pendidikan karakter dirangkai-kan dengan penilaian terhadap segenap program yang telah dilaksanakan dan evaluasi belajar peserta didik dari setiap guru mata pelajaran dan dilakukan bersama orangtua dalam pertemuan penerimaan hasil belajar siswa, (3) Penilaian pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran memiliki format tersendiri. Format evaluasi meliputi dimensi Koginitif, Psikomotorik dan Afektif (KPA) ditambah format evaluasi penilaian karakter berdasarkan ke-18 nilai karakter bangsa, (4) Peserta didik yang menunjukkan karakter yang baik selama pembelajaran berlangsung mendapatkan tambah-an nilai afektif yang nantinya diakumulasikan dengan nilai semester. Sedangkan, siswa yang berperilaku tidak sesuai mendapatkan pembinaan lang-sung oleh guru mata pelajaran, berupa teguran sekaligus motivasi dan bisa mem-pengaruhi nilai afektifnya.
Berdasarkan hasil penilaian pendidikan karakter yang dibuat oleh pimpinan sekolah dan dewan guru, didapati faktor-faktor pendukung sebagai berikut: (a) Kualitas input siswa yang sejak awal telah disaring melalui tes akademik, psikotes dan wawancara, ( b) Peserta didik yang diterima di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 adalah mereka yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata, memiliki motivasi dan daya juang yang kuat, dan memiliki kepribadian yang unggul, (c) Sarana prasarana pendukung proses belajar mengajar memenuhi standar dan representatif, seperti ruang kelas, laboratorium, Biologi, Fisika, Kimia dan Komputer, kantin yang bersih, aula, dsb.
Beberapa faktor penghambat yang dikemukakan oleh pimpinan sekolah, guru bahkan peserta didik sendiri, diantaranya : (a) Belum semua pendidik (guru) menunjukkan kese-riusan atau komitmen menjadi panutan atau teladan dalam karakter. Masih ada pendidik yang datang terlambat ke sekolah, terlambat mengajar di kelas, tidak memberi salam atau menunjukkan sikap yang menghargai orang lain. (b) Beberapa peserta didik masih berperilaku menyimpang atau melanggar aturan, padahal setiap hari diingatkan dalam pembinaan apel pagi, (c) Masih ada orangtua yang belum menunjukkan niat untuk bisa bekerjasama dengan sekolah dalam menangani persoalan disiplin anaknya, (d) Belum adanya persamaan persepsi tentang pentingnya menjaga kerahasiaan pembinaan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa. (e) Dari pihak siswa faktor penghambat yang dilihat adalah tingginya tingkat senioritas. Adik kelas sering merasa kurang nyaman dengan sikap dan perilaku kakak kelas terhadap mereka. Terutama dalam kaitan dengan tata tertib dan tata krama. Contohnya, senior akan marah kalau junior tidak memberi salam.
Hambatan-hambatan yang terjadi bersumber dari: personal internal, personal eksternal, non personal internal dan non personal eksternal. Hambatan yang paling kuat pada aspek personal internal yaitu: lemahnya kompetensi spiritual karakter pendidik dan tenaga kependidikan, non personal internalnya : keterbatasan ketersediaan dana operasio-nal sekolah, hambatan kuat pada aspek personal eksternal : lemahnya dukungan tokoh masyarakat dan orang tua siswa dan  hambatan terkuat aspek non personal eksternal : belum adanya kebijakan teknis implementasi program pembangunan karakter di sekolah.
Beberapa  komponen dalam model manajemen sekolah berbasis karakter terdiri dari komponen input, proses, output dan outcome serta tujuan (goal). Oleh karena itu, keberhasilan proses pembangunan karakter disekolah akan ditentukan oleh : (1) efisiensi input sehingga memberikan dukungan berarti pada  kelancaran proses, (2) efektivitas proses sehingga menghailkan hasil yang diharapkan, (3) produktivitas proses dan hasil, sehingga memberikan dampak positif, bermutu dan memiliki keunggulan seperti yang diharapkan, serta (4) adanya relevansi antara hasil dan dampak dengan tujuan pendidikan nasional.
Hasil pengamatan peneliti sendiri menunjukkan adanya hambatan yang paling berpengaruh dalam proses pembanguan karakter adalah “pengawasan” terfokus pada waktu jedah (spare waktu antara pulang sekloah ke rumah). Jika keadaan ini tidak adannya pengawasan, maka tidak mustahil proses pembangunan karakter sepanjang di sekolah akan sia-sia, ditambah lagi jika di rumah hanya bertemu dengan PRT (pembantu rumah tangga).

4.       SIMPULAN dan REKOMENDASI
     A. SIMPULAN
   Implementasi program pembangunan karakter merupakan salah satu strategi pendekatan yang sangat baik dalam upaya ketercapaian tujuan pendidikan nasional secara filosofi. Manajemen pendidikan berbasis karakter, merupakan kewajiban dan hakekat yang seharunya terkondisikan sebagaimana filosofi dan tujuan pendidikan nasional yakni pembentukan peserta didik berwatak dan berakhlak.
   Berdasarkan uraian tersebut dan hasil pengamatan, wawancara selama penelitian,  beberapa kesimpulan yang didapat pada hasil penelitian Implementasi Program Pembangunan Karakter  di SMA Santa Maria 1 dan 2 Bandung, adalah sebagai berikut :
1) Implementasi Program Pembangunan Karakter di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Bandung, telah terintegrasi dalam rencana program kerja yang dikembangkan dari visi, misi masing-masing sekolah diantaranya kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler,
2) Peran kepala sekolah, guru dan karyawan dalam pembinaan karakter siswa di SMA Santa Maria 1 dan 2 Bandung yaitu guru berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pada jawadal kegiatan intra dan ekstrakurikluer diantaranya : kegiatan religi yang telah menjadi kegiatan rutin : perayaan ekaristi sebulan sekali, pada awal tahun ajaran dan akhir tahun ajaran, perayaan hari besar keagamaan, doa pagi bersama sebelum masuk kelas dan giliran guru memimpin doa bersama, di lingkungan sekolah. Sebelum mulai belajar,
3) Kultur sekolah di SMA Santa Maria 1 dan 2 Bandung  yaitu disiplin, menjaga kebersihan di sekolah, dalam hal ini membiasakan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan masing-masing di depan kelas, dan  selalu menjalin silaturahmi warga sekolah serta membiasakan menaati tata tertib sekolah,
4) Secara konsep (teori), berdasarkan hasil observasi, implementasi program pembangunan karakter di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Bandung sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati bersama dan dituangkan dalam program tahunan kerja sekolah. Namun, masih menyisahkan PR yang perlu diperhatikan, yaitu dalam hal pengawasan, yang mana sikap dan perilaku peserta didik sejatinya hanya terbatas pada ruang lingkup sekolah  dari jam 06.55 WIB sampai jam17.00 WIB. Selanjutnya, menjadi tanggungjawab lingkungan dan orangtua.
   Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, perlu adanya koordinasi dan kerjasama antar lingkungan keluarga, dan masyarakat, sehingga pembangunan karakter yang telah dibangun di sekolah betul-betul menjadi efektif dan berdam-pak positif dalam perubahan sikap dan perilaku peserta didik secara permanen bukan temporary (hanya disekolah saja)
B.  REKOMENDASI
   Berdasarkan hasil kesimpulan yang dihasilkan dari penilitian ini, maka dikemukakan rekomendasi sebagai berikut:
1) Hubungan sosial yang sudah dibangun dengan baik antara kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, karyawan dan stakeholder lainnya, terus ditingkatkan,
2) Dalam usaha pengembangan pendidikan karakter peserta didik, peran warga sekolah dan kepala sekolah lebih dipertegas dengan cara memberikan motivasi kepada pendidik seperti dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan dan mengikut-kan ekstrakurikuler, sehingga pendidik mampu memberikan layanan yang maksimal kepada peserta didik yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu produk yang ada di sekolah,
3) Seluruh warga sekolah, setiap saat mengontrol peserta didik dilingkungan sekolah dan pendidik berniat baik untuk membina karakter peserta didik seperti guru mengurus anaknya sendiri, serta meningkatkan koordinasi dengan lingkungan masyarakat setempat dan keluarga,
4) Pihak sekolah membentuk tim pengembangan pendidikan karakter dan life skllis yang secara khusus mengadakan perencanaan, penyusunan program kerja dan setelah itu memantau, mengevaluasi program tersebut. Dengan demikian program pendidikan karakter dapat memberikan manfaat secara langsung yang dapat dirasakan siswa lebih efektif dan terarah,
5) Implementasi pendidikan karakter sangat tergantung pada visi dan misi sekolah, maka diharapkan kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan dan karyawan serius dalam menjalankannya, dan kalau perlu kepala sekolah mengevaluasi setiap dua minggu sekali,
6) Pembiasaan-pembiasaan pembelajaran pendidikan karakter peserta didik belum maksimal dilaksanakan oleh pendidik, maka penting bagi pendidik mengoptimalkan dan memberikan contoh sebagai pendidik karakter,
7) Melihat kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program pendidikan karakter dan mengidentifikasi masalah yang ada selanjutnya mencari solusi yang komprehensif agar program pendidikan karakter dapat tercapai,
8) Meningkatkan peran pendidik masing-masing bidang studi mensukseskan program pendidikan karakter, dan
9) Program Pembangunan karakter disekolah akan ekfektif dan bertahan lama, jika stakeholder pendidkan (dalam hal ini yayasan dan dinas pendikan), memberikan peluang bagi sekolah untuk mendesain alakasi waktu yang pembagiannya mengutamakan pembinaan karakter. Sebagai contoh : 10 menit awal dan 10 menit akhir dari mata pelajaran Agama ( 1 x pertemuan = 4 jam x 45 menit) diberikan materi pembinaan karakter, jadi tidak samata mengejar target pencapaian materi pembelajaran.  






















DAFTAR  PUSTAKA


Creswell, J.W. (1998). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five traditions. Thousand Oaks: Sage Publication.

Creswell, John.W. (2014). Reseach Design, Pendekatan Metode Kualititatrif, Kuantitiaf, dan Campuran (14th edition), SAGE Publication, Inc., Edisi dalam bahasa Indonesia (2016), Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar.

Culberston. (1982). Character Education: Teaching Values for Life. Chicago: Science Research Associates Inc

Farida, A. (2016). Pilar-pilar Pembangunan Karakter remaja : Metode Pembelajaran Aplikasi untuk Guru Sekolah Menengah. Bandung : Nuansa Cendekia.

Kennedth, J.Blacwell. (2003) Build Character. The Ohio Center For Civic Education.

Kettner. M. P,  Moroney M.R, Martin.L.L, (1990). Designing and Managing Programs : An Effectiveness-Based Approach. Newbury Park California : SAGE Publications, Inc.

Koesoema, Doni A. (2012). Karakter Pendidikan Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius.

Lickona, T. (2013) Educating for character: Mendidik untuk Membentuk Karakter. Terj. Juma Abdu Wamaungo. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Moleong, Lexy J. (2010) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset

Mulia, M.S. (2013). Kakater Manusia Indonesia : Butir-butir Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda. Bandung : Nuansa Cendika.

Mulyasa,  E. (2015). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Nasuka, (2005), Teori Sistem : Sebagai Salah Satu Alternatif Pendekatn dalam Ilmu-Ilmu Agama Islam. Jakarta:  Kencana Prenadamedia Group.

Razik A. T, Swanson D.A, (1995). Fundamental Concepts of Educational Leadership and Management. United States of America : Pretince-Hall.Inc.

Sanusi, A. (2015). Sistem Nilai, Alternatif Wajah-wajah Pendidikan. Bandung: Nuansa Cendikia

Sanusi, A.  (2016). Pendidikan Untuk Kearifan : Mempertimbangkan kembali Sistem Nilai, Belajar, dan Kecerdasan. Bandung: Nuansa Cendikia.

Sanusi, A. (2017). Manajemen Pendidikan : Mengurai benang kusut, mencari jalan keluar. Bandung : Nuansa Cedekia.

Saryono. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehat-an. Yogyakarta: Nuhe Medika.

Sauri, S.(2010). Meretas Pendidikan Nilai. Bandung:  CV. ARFINO RAYA

Sauri, S. (2010). Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam. Bandung : Rizqi Press.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharto, B. (2015). Perbandingan Sistem Pendidikan. Materi Kuliah PPs. Uninus.

Tafsir, A. (2007). Kembali Kepada Akhlak. Pikiran Rakyat (22 Oktober 2007).

Tatang M.A, (2010). Pokok-pokok Teori Sistem.,  Jakarta: PT. Raya Grafindo Persada

Zainal, A. (2015) Pendidikan Karakter di Sekolah Membangun Karakter dan Kepribadian Anak Bangsa. Bandung: Yrama Widya.

Tim Penyusun Kamus. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Undang-Undang RI Nomor 20. Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005. Tentang Standar Nasional Pendidikan Nasional.

Dirjen Dikti Kemendiknas, (2010). Kerangka Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010.

Comments

Popular posts from this blog